Halaman

Minggu, 23 Juli 2017

PROGRAM KERJA TA’MIR (REVISI 2017) PERIODE 2015-2018

PROGRAM KERJA TA’MIR MASJID DARUSSALAM
Masa Bakti : 2015 – 2018


KEPUTUSAN TA'MIR MASJID DARUSSALAM (REVISI)
Nomor : 045/Kep/PTMD/III/VII/2017
Tanggal: 22 Syawwal 1438 / 15 Juli 2017
No
Program Kerja
Waktu Pelaksanaan
Ket
1.
Pembuatan / perbaikan tempat pesawat
Januari 2016
Sudah
2.
Perbaikan tempat cuci kaki / spandek
Januari 2016
Sudah
3.
Pengadaan Lemari Kaca (tempat mukena, dll)
Agustus 2016
Sudah
4.
Pembentukan dan Reshuffle Remaja Masjid
Januari dan November 2016
Sudah
5.
Evaluasi Petugas Jum’at
Setiap musyawarah ta’mir
Sudah
6.
Pengecatan Masjid dan perlengkapannya
Mei – Juni 2016
Sudah
7.
Pembacaan Sholawat Nabi Pra Musyawarah
Setiap musyawarah
Sudah
8.
Penambahan pesawat + Sound Sistem
2015 – 2018
Sudah
9.
Hataman al Qur’an
Setiap Jum’at Kliwon
Sudah
10.
Tadarrus al Qur’an (peserta : Remas dan warga)
Setiap malam minggu
Sudah
11.
Ta’jil Bulan Ramadhan
Selama bulan Ramadhan
Sudah
12.
Takbir Bersama
Malam Hari Raya Idul Fitri dan Adha
Sudah
13.
Bersih-bersih Kuburan Krajan
29 Mei 2016
Sudah
14.
Pembangunan Congkop Makam Krajan
2 Januari 2017
Sudah
15.
Pengadaan Jam Binari
21 Mei 2017
Sudah
16.
Evaluasi Program dan Kepengurusan
Setiap tahun
Berjalan
17.
Refungsionalisasi tugas bidang / seksi
2015 – 2018
Belum
18.
Pengajian Kitab Kuning
2015 – 2018
Belum
19.
PHBI (Pengajian Umum, dll)
2015 – 2018
Belum
20.
Penyusunan buku sejarah masjid Darussalam
2015 – 2018
Belum
21.
Penataan organisasi (Inventaris Asset Masjid)
2015 – 2018
Belum
22.
Pembangunan tempat cuci
2016 – 2018
Belum
23.
Pintu utara dibuka kembali
2015 – 2018
Belum
24.
Haul Khusus
Setiap bulan
Belum
25.
Haul Akbar / umum (dimulai sejak 2018)
Setiap tahun
Belum


BUKU PANDUAN SISTEM KEMASJIDAN

Minggu, 16 Juli 2017

HASIL MUSYAWARAH TA'MIR, 15 JULI 2017

IKHTISAR MUSYAWARAH TA’MIR
Nomor : 043/B/PTMD/III/VII/2017

IDENTITAS DOKUMEN
Nomor             : 042/A/PTMD/III/VII/2017
Tanggal           : 17 Syawwal 1438 H / 7 Juli 2017 M
Perihal             : Musyawarah Ta’mir

PELAKSANAAN
H a r i              : Sabtu Malam Ahad
Tanggal           : 22 Syawwal 1438 H / 15 Juli 2017 M
Jam                 : 19.25 – 21.10 WIB
Tempat            : Masjid Darussalam
Acara              : Musyawarah Ta’mir
Hadir               : 22 orang (nama terlampir)

SUSUNAN ACARA
1.    Pembukaaan    : Suparmanto / penata acara          5.  Sambutan Penasehat        : Ust. Mulyono
2.    Tawassul          : H. Damanhuri                                6.  Musyawarah                      : Sumarto
3.    Tahlil                : H. Damanhuri                                7.  Penutup/doa                      : Kiyai Hadnadi
4.    Sambutan Ketua      : Aman Nashiruddin Al Haq


KESIMPULAN / KEPUTUSAN

1.    Mengadakan haul dengan penjelasan sebagai berikut:
a.    Setiap bulan, pada hari sabtu pon. Bulan Juli 2017 jatuh pada 22 Juli 2017 / 28 Syawwal 1438
b.    Tawassul khussuson ada sumbangan, yang mampu /tidak mampu sumbangan dibedakan, dengan menulis di kertas yang akan di tawassul.
c.    Bulan Sya’ban haul akbar diawali dengan khotmil qur’an, lebih lanjut akan di musyawarahkan kembali.
2. Kebersihan masjid tanggung jawab bersama, tidak ada gaji / HR / petugas kebersihan.
3. Amal jum’at diumumkan oleh P. Safiudin (pengurus ta'mir), yang terdiri : pemasukan, pengeluaran dan saldo keuangan masjid, diumumkan sebelum sholat jum’at.
4.    Barang-barang masjid diinventarisasi, agar jelas antara barang yang baik, rusak, dan hilang.
5.    Lebih lanjut bisa konfirmasi kepada Pengurus Ta’mir.


BUKTI HADIR MUSYAWARAH TA’MIR

No
Nama
Amanah
No
Nama
Amanah
1
Kiyai Nadnadi
Dewan Penasehat
12
P. Rohema
Seksi BP
2
H. Damanhuri
Dewan Penasehat
13
Ust. Junaidi / P. Holip
Seksi Ibadah
3
H. Ma’sum Masyhuri
Dewan Penasehat
14
Mujiono
Seksi PHBI
4
Ust. Mulyono
Dewan Penasehat
15
M. Sholehuddin
Seksi Pendidikan
5
Aman Nashiruddin Al Haq
Ketua
16
Mahrus Ali Nur
Seksi Pendidikan
6
Sumarto
Wakil Ketua
17
Awidi
Jamaah
7
Syaifudin Zuhri AHS
Sekretaris
18
Ust. Seniri / P. Wafi
Khotib / Imam Jum’at
8
Suparmanto
Wakil Sekretaris
19
Ust. Supar / P. Hamid
Muadzin / Bilal jum’at
9
H. Jamal
Wakil Bendahara
20
Yopi
Remaja Masjid
10
Safiudin / P. Hanik
Seksi BP
21
Bukhori
Remaja Masjid
11
P. Hayyi
Seksi BP
22
P. Iyeh / Imam
Jamaah

Ditetapkan di : Darungan
Pada tanggal 22 Syawwal 1438 H / 15 Juli 2017 M, Jam : 21.30 WIB
PIMPINAN MUSYAWARAH
                                                    Ketua                                             Sekretaris / Notulen
                                                      Ttd                                                             Ttd



                                               SUMARTO                                           SUPARMANTO

Senin, 22 Mei 2017

Bersatunya Masjid NU dan Sekolah Muhammadiyah.

Bersatunya Masjid NU dan Sekolah Muhammadiyah.
Beberapa hari lalu, cuaca buruk mengiringi perjalanan kami dari Bandung menuju Kota Malang. Bukan Bandung Jawa Barat yang kami maksud, lebih tepatnya Kecamatan Bandung, Tulungagung. Kebetulan kami memiliki kawan baik yang tinggal di Bandung, Tulungagung. Bolehlah mampir sejenak untuk bersilaturrahim, walau tujuan kami sebenarnya ingin berlibur ke tempat wisata yang populer di Tulungagung selatan, terutama pantai. Namun apa mau dikata, hujan lebat dan angin kencang mengurungkan niat kami. Terlalu beresiko untuk dilanjutkan. Jadilah kami di Bandung hanya silaturrahim kemudian langsung pamit kembali ke Kota Malang pada sore harinya.

 
Hujan lebat mulai mereda begitu kami sampai di sekitar Waduk Karangkates. Arah Kapanjen, masih di wilayah Sumberpucung, kami memutuskan untuk singgah di salah satu masjid. Menjamak takhir sholat maghrib dan isya. Masjid yang kami singgahi cukup megah dengan beberapa menara tinggi menjulang, memiliki halaman parkir yang luas, serta gedung sekolah yang bagus. Kami parkirkan kendaraan kami menghadap gedung sekolah, tepat disebelah tiang bendera. Berarti halaman parkir masjid itu berfungsi juga sebagai halaman sekolah.
Saya perhatikan tulisan besar yang menempel di tembok gedung sekolah itu. “SMA 02 Muhammadiyah Sumberpucung” dan lambang surya khas muhammadiyah dituliskan dengan warna dominan biru tampil mentereng di tembok sekolah. Tidak ada yang aneh, toh cukup mafhum jika sekolah muhammadiyah memang banyak dijumpai dimana-mana. Awalnya saya berpikiran bahwa ini kompleks yayasan muhammadiyah, ada sekolah dan masjidnya.
Namun tunggu dulu, ada sedikit kejanggalan manakala saya amati masjid itu. Masjid itu memiliki dominan warna hijau, baik warna luarnya, warna keramik hingga warna karpetnya. Warna hijau adalah warna khas Nahdlatul Ulama (walaupun tak semua masjid nahdlatul ulama berwarna hijau). Di teras masjid terdapat bedug besar, biasanya dipukul menjelang waktu adzan. Kok rasanya belum pernah saya menjumpai ada masjid muhammadiyah yang memiliki bedug. Tak cukup sampai disana, saya amati struktur kepengurusan ta’mir masjid. Rasa penasaran saya terjawab. Pada bagian kop struktur kepengurusan masjid, tertulis jelas “Masjid Al-Ishlah PCNU Kecamatan Sumberpucung”. Selain itu, tertampang pula kalender Majelis Maulid Riyadlul Jannah di tembok masjid. Subhanallah, ternyata yang kami singgahi adalah masjid NU yang tepat didepannya ada sekolah muhammadiyah. Fenomena yang jarang saya jumpai.
Masjid Al-Ishlah dan SMA 2 Muhammadiyah dalam satu kompleks

Diam-diam hati saya bergetar haru mengamati masjid NU dan sekolah muhammadiyah ini berdiri berdampingan dengan gagahnya. Serasa saya sedang diperlihatkan tokoh kharismatik kita, KH. Hasyim Asyari dan KH. Ahmad Dahlan sedang bergandengan tangan membangun kejayaan islam indonesia. Entah mengapa, dari dulu banyak masyarakat kita yang selalu meributkan diri dengan persoalan khilafiyah, apalagi jika membahas NU dan Muhammadiyah. Meributkan mana yang benar antara qunut atau tidak qunut, tarawih 8 rakaat atau 20 rakaat, dan masih banyak lagi. Membahas khilafiyah tidak akan ada ujungnya karena masing-masing memiliki hujjah yang kuat.
Ironisnya, mendebatkan persoalan khilafiyah selama ini justru menjadi jurang pemisah yang kuat bagi NU dan Muhammadiyah. Seakan-akan tak lagi bisa disatukan. Apalagi bagi mereka yang fanatik buta pada salah satunya. Akhirnya, muncul mereka yang tak mau sholat shubuh di masjid muhammadiyah karena tak qunut, atau tak mau sholat di masjid NU karena ada qunutnya. Sedih rasanya melihat mereka saling mencaci. Padahal panutan kita sama, KH. Hasyim Asyari dan KH. Ahmad Dahlan adalah ahlussunah wal jamaah sejati yang mewarisi keilmuan Rasulullah.
Fenomena bersatunya masjid NU dan sekolah muhammadiyah ini bahasa kerennya out of the box , diluar dugaan, mengejutkan dan membuat kita bangga. NU yang berdakwah melalui kultur masyarakat kecil dan muhammadiyah yang berdakwah di pendidikan bisa bersatu padu membentuk masyarakat nusantara yang berkemajuan.
Sekarang, bukan zamannya lagi menghabiskan energi untuk mendebatkan khilafiyah. NU dan Muhammadiyah bersatu membentuk umat islam yang maju. Membentuk masyarakat “intelektual religius” dan “religius intelektual”. Tak heran, jika suatu saat banyak kita jumpai ada yang profesor atau profesor yang kyai, tentu terbentuk dari spirit dakwah NU dan Muhammadiyah. Insya Allah….
Surabaya, 8 November 2016
sumber : https://charisfauzan.wordpress.com

Masjid NU Harus Perkuat Tradisi Keagamaan Aswaja

Masjid NU Harus Perkuat Tradisi Keagamaan Aswaja

Sabtu, 20 Agustus 2016 18:01
Kudus, NU Online
Masjid maupun mushola Nahdlatul Ulama (NU) mempunyai peran penting untuk melestarikan paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dari gerusan ajaran lainnya. Salah satunya, pengurus masjid NU harus menumbuhkembangkan tradisi-tradisi keagamaan Aswaja di masjid.

"Disamping mengurusi warganya sendiri, masjid NU harus memperkuat tradisi Aswaja guna mencegah masuknya paham non Aswaja yang mengancam jamaah," kata pengurus Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Kabupaten Kudus H. Ahmad Syafi'i, Jumat (19/8). 

Syafi'i mengatakan, ancaman paham lain akan hilang manakala masjid NU masih mensyiarkan berbagai kegiatan maupun tradisi Aswaja di lingkungan masjid. Ia menyebut tradisi-tradisi ajaraan Aswaja semacam nabuh bedug-kentongan sebelum adzan, membaca syi'ir puji-pujian setelah adzan, serta dzibaan-berjanzenan supaya tetap digerakkan dan dipertahankan.

"Kalau bisa maksimalkan syiarnya dengan pengeras suara, walaupun dibatasi waktunya demi toleransi warga sekitarnya," ujarnya. 

Dalam penataan manajemen masjid, kata dia, perlu ada penyeragaman administrasi. Struktur kepengurusan wajib mencantumkan pengurus NU sebagai pelindung di bawah kepala Desa. 

"Penyeragaman papan nama masjid NU juga sangat perlu untuk menangkal aliran yang tidak jelas jluntrung-nya," tegas Syafi'i yang juga ketua pengurus masjid Baitul Muttaqin Jatiwetan Kudus. 

Syafi'i memohon para kiai NU bisa menyebarluaskan ilmunya termasuk naskah khutbahnya kepada jamaah. Sebab, ia menyadari sebagian khotib muda lebih senang mengcopy naskah khutbah dari internet. 

"Yang kita khawatirkan, manakala mengambil teks khutbah berpaham non-Aswaja. Insyaallah kita akan gagas penerbitan buletin atau selebaran bagi jamaah masjid," katanya.


sumber : http://www.nu.or.id/